Surabaya (ANTARA) - Duta Besar Palestina untuk
Indonesia, Fariz Navi Mehdawi, menegaskan bahwa pihaknya akan menyeret
Israel ke Mahkamah Internasional atas serangkaian tindak kejahatan
terhadap masyarakat Palestina, seperti membunuh anak-anak dan perempuan,
membangun pemukiman di tanah bukan miliknya, embargo ekonomi, dan
banyak lagi.
"Kami belajar banyak kepada Indonesia yang pernah dijajah Belanda
selama 350 tahun, di antaranya pentingnya bersabar dan bersatu, kami
mulai menikmati kemerdekaan yang juga dipelopori Indonesia," katanya
dalam Tabligh Akbar digelar `Aqsa Working Group` perwakilan Surabaya di
Masjid Kemayoran, Surabaya, Minggu.
Di hadapan ratusan warga Surabaya dan sekitarnya serta ulama dari
Malaysia, yakni Dr Abdul Halim bin Abdul Hamid, dan pengasuh Pesantren
Al-Fatah, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Drs Yakhsyallah Mansyur MA, ia
menjelaskan upaya menyeret Israel ke Mahkamah Internasional akan
melibatkan 26 dari 139 negara yang mendukung Palestina di PBB.
"Kami optimistis, karena kemerdekaan Palestina itu bukan untuk
Palestina, melainkan umat Islam akan bisa shalat berjamaah di Masjidil
Aqsa. Itu masalah umat Islam, bukan masalah bangsa Palestina atau bangsa
Arab semata, karena itu semuanya harus bersatu. Kami juga mendoakan
Indonesia menjadi negara yang kuat, karena kalau Indonesia kuat, maka
Palestina juga kuat," katanya.
Menurut dia, kunci kemenangan adalah persatuan, karena harta itu
tidak ada artinya bila umat Islam tidak bersatu, apalagi kita menghadapi
musuh yang menggunakan cara-cara tidak manusiawi, mereka menyerang
anak-anak dan perempuan, mereka membangun pemukiman di tanah milik
orang, dan mereka melakukan embargo ekonomi.
"Akibat embargo ekonomi itu, pemerintah kami tidak bisa menggaji
pegawai, menggaji guru, dan banyak lagi, karena itu persatuan itu
penting. Saat ini, kami sedang merancang persatuan antara Hamas dan
Fatah, tapi kami sadar sepenuhnya bahwa Israel tidak suka dengan
persatuan itu, karena itu mereka melakukan berbagai cara untuk
merusaknya," katanya.
Apalagi, Israel sudah mengetahui kemenangan bangsa Palestina di dunia
dengan adanya pengakuan PBB atas Palestina dengan dukungan 139 negara
dan hanya 8-9 negara yang tidak mendukung. "Indonesia sangat berperan
besar dalam hal itu, karena Indonesia tidak hanya bersuara, tapi juga
bertindak melobi negara-negara Arab," katanya.
Oleh karena itu, Palestina pun mendapatkan kemenangan di Jalur Gaza
dan tinggal selangkah lagi akan dapat mewujudkan persatuan di antara dua
kelompok masyarakat Palestina, yakni Hamas dan Fatah. "Itu akan
terwujud sebentar lagi, karena negara-negara Eropa juga mendukung kami.
Kami akan menyusun perangkat negara secara bersama antara Hamas dengan
Fatah," katanya.
Dalam kesempatan itu, Dubes Palestina memuji semangat heroik
masyarakat Surabaya. "Seperti kalian, kami akan terus berjuang agar
bebas dari penjajahan. Sampai kemarin, kami terus diserang, tapi kami
juga terus melawan. Korban sudah banyak, tapi mereka merupakan syuhada`.
Kami akan terus bersabar dan bersatu dalam perjuangan," katanya.
Ia menilai pengakuan PBB terhadap Palestina, meski belum sampai pada
pengakuan penuh sebagai negara, namun Palestina bukan lagi sebagai
peninjau di PBB. "Hal itu merupakan berkat dari kesabaran, persatuan,
dan pertolongan Allah SWT serta bantuan dari umat Islam se-dunia. Dunia
sudah mendukung kami dan Indonesia memelopori dukungan itu," katanya.
Sementara itu, ulama dari Malaysia, Dr Abdul Halim bin Abdul Hamid,
menegaskan bahwa dukungan dalam bentuk dinar dan dirham untuk bangsa
Palestina itu penting, karena Israel sudah menggerogoti mereka dari
aspek geografi dan juga ekonomi. "Dukungan ekonomi itu tak kalah
pentingnya dengan dukungan politik," katanya.